Antisipasi Penyakit di Musim Hujan
Rabu, 13 Maret 2013 - 11:39
Minggu-minggu ini hujan mengakrabi kita, yang tentu akan membawa dampak
kurang baik bagi kesehatan jika kita tidak benar-benar waspada. Jika
didasarkan pada konsep terjadinya suatu proses penyakit—khususnya
penyakit Infeksi—timbulnya penyakit infeksi adalah akibat
ketidakseimbangan antara faktor lingkungan (environment), daya tahan
tubuh (host) dan kuman penyakit (agent).
Faktor Lingkungan
Saat kemarau banyak debu dan kotoran di tempat-tempat yang tersembunyi
dan pada musim hujan maka air membawanya ke tempat yang lebih terbuka.
Kotoran tersebut merupakan tempat potensial hidupnya berbagai kuman
penyakit, termasuk di dalamnya kotoran berbagai binatang khususnya
tikus.
Tikus merupakan vektor utama pembawa kuman leptospira
(penyebab penyakit leptospirosis yang sangat berbahaya). Kuman tersebut
hidup pada urin tikus. Jika kita menginjak kotoran tikus, dan kebetulan
pada telapak kaki kita lecet/terluka maka kuman masuk ke dalam tubuh.
Gejala
leptospirosis berupa pegal linu, meriang, biasanya disertai flu, demam
tinggi, mata dan kulit kuning dan pada keadaan lanjut bisa mengalami
perdarahan hebat baik pada kulit, saluran pencernaan maupun saluran
kemih.
Air hujan yang kotor dapat mencemari berbagai sumber air
bersih. Air yang tercemar akan menurun kualitasnya sehingga tidak layak
untuk dikonsumsi. Belum lagi genangan air serta tumpukan barang bekas
seperti kaleng dan plastik, yang merupakan tempat potensial bagi
berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, nyamuk penyebab demam berdarah.
Daya Tahan Tubuh
Perubahan suhu dari panas ke dingin akan mempengaruhi daya tahan tubuh.
Apalagi pada mereka yang dalam kesehariannya selalu terpapar dengan
udara terbuka dan teriknya panas matahari, dan kini kehujanan. Cuaca
yang tidak menentu juga berpotensi mengundang penyakit influenza.
Manifestasinya batuk, pilek, bersin serta badan terasa pegal dan linu
dan kadang kala sampai demam.
Penyakit infeksi saluran pernapasan
lain berupa radang tenggorokan yang ditandai dengan sakit saat menelan
juga sering terjadi. Pasien dengan riwayat alergi udara dingin juga
perlu berhati-hati karena kemungkinan akan kambuh seperti penyakit sesak
napas berulang (asma bronkiale), riwayat radang hidung alergi (Rhinitis
alergi). Pada pasien tertentu udara dingin membuat seseorang lebih
sering ke toilet baik untuk buang air kecil maupun buang air besar.
Kelompok masyarakat yang paling rentan dalam kondisi ini adalah
anak-anak khususnya anak balita, ibu hamil dan menyusui, orang-orang tua
serta orang dengan berbagai penyakit kronis.
Faktor Bibit Penyakit
Kuman atau bibit penyakit akan tumbuh subur pada lingkungan kotor,
keadaan lingkungan saat musim hujan merupakan keadaan lingkungan yang
memungkinkan tumbuh suburnya berbagai kuman penyakit khususnya kuman
penyakit yang potensial untuk terjadinya wabah.
Ketika hujan,
tumpukan sampah cenderung menjadi lembab sehingga mengundang datangnya
lalat dan kecoa—vector penting pembawa kuman penyakit—terutama kuman
penyakit yang menyerang pencernaan. Berbagai kuman penyakit penyebab
muntaber/diare antara lain Vibrio cholera, E. coli, Entamoeba
histolitika dan shigela penyebab penyakit Disentri, salmonella penyebab
penyakit Thyphoid, stapilokokus, rotavirus dan berbagai kuman lain.
Bagaimana pencegahannya?
Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki ketiga faktor yang memperburuk
kondisi tersebut. Lingkungan harus selalu diperhatikan agar tetap bersih
terutama setelah hujan datang.
Konsep 3 M (Menutup, Mengubur,
Menguras) bukan hanya slogan tetapi harus selalu diterapkan terutama
pada masa awal musim hujan ini terutama untuk pencegahan penyebar luasan
penyakit Demam Berdarah/DHF.
Bagaimana agar tubuh tetap sehat? • Perhatikan makanan dan minuman, jaga kualitas dan kebersihan makanan.
• Perbanyak makan sayur dan buah.
• Hindari atau kurangi mengkonsumsi makanan dan minuman yang terlalu
dingin, goreng-gorengan serta makanan/minuman yang terlalu manis, karena
akan merangsang dan mudah mengiritasi tenggorokan.
• Suplementasi
mineral dan multivitamin dianjurkan untuk dikonsumsi jika memang dalam 1
hari tersebut kita melakukan aktifitas sehari penuh dari pagi sampai
malam dan juga bila kita merasa bahwa asupan makan dan minuman kita
tidak seimbang.
Referensi Braunwald E., Faucy AS, Kasper DL, Hauzer SL, et al. Harrison’s Manual of Medicine. McGraw Hill, ed 15. 2002.